• This site uses cookies. By continuing to use this site, you are agreeing to our use of cookies. Learn more.

Mengapa Ngebet Makan Sahur Meski Sudah Adzan?

Kepala Suku

Web & Mobile Developer
Staff member
#1
Ngebet Makan Meski Sudah Subuh

Yang saya bicarakan ini bukan orang fasiq yang gak puasa, tapi justru orang yang berpuasa dengan semangat. Tetapi sepertinya bukan hanya semangat berpuasa, dia semangat pula untuk tetap makan meski sudah adzan subuh.

Aneh ya kok ngebet sekali pengen makan saat subuh ramadhan. Kalau kita-kita gak makan saat panggilan imsak, diprotes seolah itu salah dan seolah yang baik tetap makan. Kalau adzan subuh terdengar lalu berhenti, dianggap kurang update seolah yang benar tetap lanjut makan. Saya tidak mengklaim sudah membaca semua literatur soal puasa, tapi setahu saya tidak ada sejarahnya ada kelompok yang ngebet banget ngajarin orang agar tetap makan saat subuh ramadhan seperti kelompok sebelah sekarang ini.

Dalil-dalilnya pakai cocokologi yang penting terkesan bisa dipakai terus makan. Saya pernah menulis tulisan dengan judul "CONTOH IJTIHAD ABAL-ABAL: BOLEH LANJUT MAKAN SAHUR SAAT ADZAN SUBUH". Di sana saya sudah membahas bahwa hadis andalan mereka yang isinya memperbolehkan tetap makan ketika adzan sebenarnya dalam konteks adzan pertama di masa Rasulullah yang fungsinya untuk membangunkan orang, bukan adzan kedua yang berfungsi memberitahu bahwa waktu shubuh telah tiba.

Kali ini saya akan membahas dalil mereka lainnya yang belum dibahas di tulisan tersebut. Agar tetap bisa makan saat subuh, mereka berdalil dengan hadis berikut:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ، فَلا يَعْجَلْ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ ".
"Apabila kalian sedang makan, maka janganlah tergesa-gesa hingga ia menyelesaikan hajatnya, meskipun shalat telah ditegakkan (iqaamah)” [Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Atsar]

Kalau orang yang tidak mengerti apa-apa, mungkin akan langsung yakin bahwa Rasulullah memperbolehkan tetap makan bahkan saat iqamah subuh. Tapi yang belajar pendapat para ulama dengan benar tahu betul bahwa hadis tersebut sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan adzan subuh, bahkan bukan tentang puasa sama sekali. Hadis itu hanya menerangkan bahwa kalau anda sedang enak-enak makan, belum habis makanannya, eh ternyata kok shalat jamaah sudah mau dimulai, maka anda tak perlu tergesa-gesa meletakkan piring untuk meluncur ke masjid. Selesaikan saja dulu makannya, kalau sudah selesai barulah pergi ke masjid untuk mengejar jamaah. Dari sini kemudian muncul jargon orang awam: "lebih baik makan sambil ingat shalat daripada shalat sambil ingat makan". Orang awam biasanya paham betul ajaran ini sebab sudah masyhur.

Musibahnya adalah ketika ajaran sederhana ini malah diselewengkan konteksnya diletakkan di bab puasa lalu disimpulkan bahwa meski sudah iqamat subuh tetap boleh makan. Tak ada kata yang lebih pas untuk menggambarkannya kecuali "gile betul lu ndro".

Ditulis oleh Abdul Wahhab Ahmad